Tutorial Blogger
Tahfizhul Quran
Bisnis Online
Buat Web
Recent Articles
Tampilkan postingan dengan label Tahfizh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahfizh. Tampilkan semua postingan
Kureguk Nikmatnya Al-Qur’an di Gaza
dakwatuna.com – Gaza, “Kedatanganku dari Kanada ke Gaza untuk menghafal al-Qur’an tidak sia-sia … Waktu yang aku gunakan untuk menghafal al-qur’an berpahala sangat besar … Pelaksanaan perkemahan hafal al-Qur’an di Jalur Gaza sangat indah dan istimewa… Dalam suasana yang sangat menyenangkan, canda, bermain dan hiburan bernuansa syar’i.”
...
Dengan kata-kata inilah seorang remaja asal Kanada bernama Muhammad Ziyara, berusia 15 tahun, mengungkapkan perasaan gembiranya saat ikut dalam perkemahan “Tajul Waqar” (mahkota ketegaran) untuk menghafal al-Quran di Jalur Gaza.
Ziyara datang ke Jalur Gaza mengikuti perkemahan ini atas kehendak dirinya sendiri. Dia mengatakan, “Sejak hari pertama kedua kakiku menginjakkan tanah Gaza melalui gerbang perlintasan darat Rafah, kudaftarkan keikutsertaanku dalam perkemahan “Tajul Waqar” untuk menghafal al-Qur’an, yang disponsori oleh yayasan “Darul Quran dan Sunnah”.
Kepada koresponden Infopalestina, remaja yang menghafal al-Qur’an dalam halaqah “Tajul Waqar” di masjid At-Tauhid was-Sunnah di kampung al-Durj di timur kota Gaza ini mengatakan, “Sejak kecil aku tinggal bersama keluarga di Kanada. Aku hidup di sana sebagai anak yang normal. Namun ketika kami telah memutuskan untuk kembali ke tanah air kami, di Gaza, aku segera punya ide untuk mendaftar di perkemahan hafal al-Qur’an.”
Ziyara tinggal selama lima hari di Jalur Gaza, setelah itu kembali ke Kanada. Mestinya waktu liburan ini ia gunakan untuk bermain dan bersenang-senang. Namun ia lebih memilih menghabiskannya dalam perkemahan hafal al-Qur’an, lebih dekat dengan Dzat yang Menurunkan Wahyu dan lebih dalam pengetahuan tentang Kitab-Nya. Demikian penuturan Ziyara.
Istimewa dan Rekreatif
Mengomentari pelaksanaan perkemahan hafal al-Qur’an selama musim panas di Jalur Gaza, remaja asal Kanada ini mengatakan bahwa pelaksanaan perkemahan hafal al-Qur’an ini indah dan istimewa. Terjadi persaingan di antara siswa, dan saling berlomba sebanyak mungkin hafalan di halaqah tahfizh (kelompok hafalan). Dia menambahkan,
“Aku menemukan semua siswa semangat dalam menghafal. Dalam sehari, aku bisa menghafal rata-rata 8 sampai 10 halaman sejak awal saya ikut dalam perkemahan al-Qur’an ini.”
“Setelah Subuh kami mulai menghafal sampai waktu Zhuhur. Setelah itu kami beristirahat.”Al-Qur’an di Eropa
Ziyara bercerita perihal Islam di Eropa, khususnya di Kanada, ia menjelaskan: “Islam adalah agama yang tersebar merata di semua penjuru bumi. Di Eropa terdapat banyak islamic center dan masjid yang menfasilitasi untuk menghafal al-Qur’an, tetapi banyak orang Arab tidak fasih berbicara dalam bahasa Arab, karena lamanya mereka tinggal di Barat. Demikian juga proses hafalan al-Qur’an, lambat dibandingkan dengan apa yang kulihat di Jalur Gaza ini.”
Di akhir pembicaraan, Ziyara menyampaikan pesan terima kasih kepada penyelenggaran perkemahan dan lembaga yang mensponsorinya. Dia mengatakan, “Aku yakin kedatanganku dari Kanada ke Gaza untuk menghafal al-Qur’an tidak akan sia-sia.”
Program Berkesinambungan
Sabtu (13/6), Yayasan Darul Qur’an dan Sunnah di Jalur Gaza membuka perkemahan “Tajul Waqar” dengan tujuan mencetak para penghafal al-Qur’an. Dr. Abdurrahman al-Jamal, ketua lembaga ini mengatakan bahwa program ini dilaksanakan pada saat liburan sekolah musim panas. Dengan tujuan memanfaatkan masa liburan untuk membentuk generasi Qur’ani yang siap dan mampu bertanggungjawab membebaskan tanah air dan melaksanakan dakwah di jalan Allah. Program Tajul Waqar ini serempak diselenggarakan di seluruh penjuru wilayah Jalur Gaza dan berlangsung selama 60 hari diikuti lebih 10 ribu siswa-siswi yang ingin menghafal al-Qur’an.
Tajul Waqar adalah program lanjutan untuk Tahfizhul Qur’an (menghafal al-Qur’an) yang digalang lembaga Darul Qur’an dan as-Sunnah selama ini. Setelah sebelumnya musim panas tahun 2007 program yang sama dilaksanakan selama 60 hari. Dari program ini di tahun 2007, tercatat ada 400 hafizh dan hafizhah (penghafal) al-Qur’an penuh (30 juz), sebagian lain hanya hafal sejumlah juz. Musim panas tahun 2008, program hafal Qur’an dengan nama ”Tabashir Nasr” digelar dan berhasil mencetak sekitar 3 ribu siswa-siswi penghafal al-Qur’an baru.
Program ini dilaksanakan untuk mentradisikan menghafal al-Qur’an dan berupaya terus agar setiap rumah Palestina punya penghafal al-Qur’an. Alasan lain yang tidak kalah penting penyelenggaraan program ini adalah terus berlangsungnya penistaan dari musuh terhadap al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Penistaan semacam ini harus dilawan dengan cara membuat program yang mencetak para penghafal al-Qur’an dan pemegang teguh manhaj Allah. Program unik dan langka di dunia Islam dan Arab ini termasuk bentuk reaksi atas perang yang dilancarkan penjajah dan sekutunya dalam merusak moral generasi muda serta penghancuran terhadap masjid dan markas-markas penghafal al-Qur’an.
Program Tajul Waqar ini salah satu dari ratusan program dakwah yang mempunyai andil membentuk pribadi muslim dan menampilkan Gaza sebagai wilayah yang tak pernah gentar melawan musuh-musuhnya. (ip/seto)
Tips Mengajar Anak Tahfizh Dalam Target
Mendidik anak sejak sejak dini adalah kewajiban kita sebagai orang tua; Karena anak adalah amanah yang Allah SWT bebankan kepada kita. Salah satunya adalah bagaimana kita mengajarkan Al-Quran kepada anak kita. Dalam hal ini kita ingin sekali anak kita dapat menghafal Al-Quran dan memulainya sedini mungkin.
1. Jangan tergesa-gesa.
2. Menghafal Surat Pendek
...
Namun terkadang seorang ayah atau ibu karena belum terbiasa menghafal Al-Quran jadi agak ‘bingung’ bagaimana bisa meraih kemuliaan agar anaknya kelak bisa menghafal Al-Quran. Namun bagi orang tua yang memiliki kemampuan dan sudah terbiasa menghafal Al-Quran, maka insya Allah tidak akan mengalami banyak kesulitan dalam membimbing sang buah hati tuk meraih cita-cita mulia yaitu dapat menghafal Al-Quran.
Kita tahu bahwa belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu dan belajar di usia lanjut bagaikan mengukir di atasa air. Kita juga tau bahwa anak kecil bagaikan kaset kosong siap diisi dan menerima apa saja, yang baik ataupun yang buruk dan itu akan terekam kuat dalam memorinya. Oleh karenanya orang tua harus berusaha seoptimal mungkin dalam memanfaatkan masa ini bagi anaknya agar waktu yang ada dapat dilalui dengan berbagai aktifitas positif dan bermanfaat bagi anak di masa mendatang.
1. Jangan tergesa-gesa.
Sebagai orang tua, ketika ingin memulai mengajarkan anak menghafal Al-Quran, usahakan jangan tergesa-gesa supaya anak cepat hafal ayat atau surat yang baru satu atau dua kali dia baca. Hafalan yang baik akan didapatkan dengan cara membaca berulang kali ayat-ayat atau surat yang akan kita hafal. Paling tidak, kita dapat membacakannya minimal tujuh kali. Setelah kita merasakan ayat-ayat yang baru saja kita bacakan tadi telah melekat di dalam memori anak kita, barulah boleh pindah ke ayat atau surat berikutnya.
Mungkin tidak sedikit anak yang sudah mandiri menghafal sendiri, saat sedang menghafal Al-Quran, setelah membaca dua sampai tiga kali ayat yang akan dihafalnya, dia merasa sudah menghafalnya. Setelah itu, ia pun mencoba pindah ke ayat berikutnya karena ingin segera menghafal ayat lain, padahal dia belum menghafalnya dengan baik. Maka di sini peran seorang guru Al-Quran, dalam hal ini orang tua yang mengajarkannya di rumah agar mengarahkannya dengan baik supaya jangan pindah ke ayat lain kecuali bila diyakini si anak benar-benar telah hafal.
Menghafal dengan tergesa-gesa sebenarnya tidak dapat dibenarkan dalam proses menghafal Al-Quran. Cara menghafal demikian tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan. Menghafal sedikit-sedikit lebih baik daripada banyak tetapi terputus dan menghafal dengan tergesa-gesa akan mengakibatkan cepat lupa.
2. Menghafal Surat Pendek
Dalam membimbing dan mengajarkan anak untuk menghafal Al-Quran, mulailah dari surat-surat pendek. Yaitu yang terdapat di dalam juz ‘amma atau juz 30. karena selain lebih mudah menjelaskan isi atau kandungan surat tersebut dalam bentuk cerita juga surat-surat pendek itu lebih sering dibaca, khususnya oleh imam shalat di masjid-masjid dan di mushalla mushalla. Sehingga anak tidak akan menghadapi banyak kesulitan ketika menghafal nanti.
3. Buat targetDalam menghafal Al-Quran, merencanakan target tertentu tidak bisa lepas dalam proses menghafal. Walaupun sebenarnya penentuan target hafalan adalah suatu hal yang relative, karena setiap anak dalam menghafal memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Namun untuk memberikan kemudahan kepadanya dan agar lebih terarah memang harus ada perencanaan target tertentu. Maka dalam waktu sebulan hasilnya akan kelihatan berapa ayat atau surat yang akan dicapai oleh si anak. Dalam membuat target hafalan ayat atau surat yang akan dihafal usahakan jangan terlalu banyak, harus disesuaikan dengan kemampuan daya serap dan hafal si anak, sehingga anak akan merasakan bahwa menghafal Al-Quran itu mudah dan menyenangkan. Dan bila dinilai anak sudah mulai menyukai hafalan dan prestasinya bagus, maka bisa saja targetnya dinaikan. Mungkin yang tadinya ditargetkan dalam sepekan anak dapat menghafal setengah halaman misalnya, maka target itu bisa dinaikan menjadi satu halaman di bulan berikutnya.
Kalau kita ambil contoh dan pukul rata-rata bahwa setiap 1 juz Al-Quran itu berjumlah 10 lembar atau 20 halaman, maka untuk 30 juz Al-Quran berjumlah tidak kurang dari 600 halaman. Berarti bila anak dapat menghafal secara kontiniu setiap pekan satu halaman, maka dalam tempo satu tahun atau kurang lebih 48 pekan maka dia akan menghafal sebanyak 48 halaman atau sekitar 2,5 juz. Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa dalam penentuan target hafalan adalah suatu hal yang relative dan setiap anak dalam menghafal memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Jadi bisa jadi dalam menghafal Al-Quran ada anak yang lebih cepat dari alokasi target yang baru saja kita sebutkan sebelumnya.
Oleh : H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA.
Sumber : http://ayahbundafata.blogspot.com
Mengajarkan Tahfizh Quran untuk anak-anak (usia 6-8 tahun)
Dalam menanamkan akidah, ilmu pengetahuan agama dan tentunya pengajaran Al-Quran, hendaknya kita mulia mengajarkan anak-anak kita sejak mereka masih berusia dini. Karena pada usia ini selain sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak dan memori anak-anak yang masih polos, juga mereka bagaikan kaset kosong yang siap diisi oleh apa saja, apapun yang didengar sang anak pasti akan terekam dalam memorinya. Oleh karena itu seoptimal mungkin kita perdengarkan kepada buah hati kita bacaan Al-Quran, baik kita langsung yang membacanya atau dengan menggunakan kaset atau semacamnya.
Cara ini pula yang pernah dilakukan oleh para shahabat dan telah menjadi tradisi mereka dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka. Mereka memilki perhatian yang sangat tinggi dalam mengajarkan Al-Quran. Demikian pula para tabi’in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai kiamat kelak. Sehingga kalau kita membaca kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab, banyak riwayat yang bercerita tentang suksesnya para ulama dalam menghafalkan Al-Quran di usia sebelum mencapai sepuluh tahun. Sebut saja Imam Syafi’i, peletak Madzhab Asy-Sayfi’iyyah, beliau berhasil menghafal Al-Quran 30 juz diusia 7 tahun. Imam Suyuthi, penyusun beberapa kitab, diataranya tafsir jalalain dan tafsir Al-Durrul mantsur, belum genap delapan tahun usianya, beliau telah sukses menghafal Al-Quran 30 juz.
Dalam mengajarkan anak di usia 6 -8 tahunan, kami melihat ada beberapa metode atau cara yang bisa diterapkan :
Pertaman kali yang harus kita fahami adalah bahwa anak-anak seusia ini lebih suka mendapatkan pujian, reward, hadiah, iming-iming atau apalah namanya. Yang jelas mereka sangat menyukai bila selesai mengerjakan tugas, ada yang langsung mereka peroleh. Ini akan jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pendekatan ancaman atau pukulan bila sianak tidak mau atau tidak mencapai target tertentu dalam menghafal Al-Quran.
Berikan mereka hadiah apa saja, dan hadiah itu tidak harus yang mahal harganya. Yang penting bentuk perhatian dari seorang guru atau mungkin juga orang tuanya. Memang kalau ada cukup rezeki, baik sekali kalau hadiah yang diberikan kepada sang anak berkaitan erat dengan program tahfizh Al-Quran, walaupun harganya agak sedikit mahal. Seperti Al-Quran digital, MP4 atau ada juga HP yang berisikan tilawah Al-Quran 30 juz. Tentunya ini akan membuat anak akan lebih bersemangat lagi dalam belajar dan menghafal Al-Quran.
Kedua yang harus diperhatikan oleh seorang guru atau orang tua yang mengajarkan anaknya adalah agar selalu memuji dan menyanjung sang anak atas keberhasilan mereka dalam menyelesaikan tugas atau telah mencapai target tertentu dalam menghafal Al-Quran. Jadi, kita harus berlaku adil terhadap si anak. Jangan ketika dia melakukan kesalahan, tidak mencapai target, kita selalu menyalahkannya dan membuat dia berputus asa dan akhirnya mengakibatkan sang anak tidak lagi mau menghafal. Jadi harus lebih diperhatikan bagaimana sang anak tersebut selalu senang dalam proses menghafal.
Ketiga yang juga tidak kalah pentingnya adalah menciptakan suasana belajar atau menghafal yang menyenangkan dan senyaman mungkin. Sehingga anak akan merasakan mudah dan nikmatnya menghafal Al-Quran. Jangan sekali-kali ada kesan memaksa dan menekan anak untuk menghafal Al-Quran. Karena bila hal ini dilakukan bukan saja dia tidak mau menghafal, bisa jadi dia juga nantinya akan benci dan trauma kalau disuruh untuk menghafal Al-Quran.
Keempat, usahakan sebelum mulai menghafal, seorang guru atau orang tua yang mengajarkannya bercerita secara ringkas tentang isi ayat atau surat yang akan dihafal. Karena dengan demikian dia akan menjadi lebih tertarik dan termotivasi untuk menghafal. Dia ingin sekali menghafal ayat atau surat yang bercerita tentang kisah-kisah tertentu di dalam Al-Quran.
Kelima, mungkin ini juga tidak kalah pentingnya untuk merangsang anak dalam menghafal Al-Quran. Buat gambar-gambar yang berkaitan erat denga ayat atau surat yang akan dihafal. Sehingga mereka akan dapat membayangkan kejadian atau peristiwa apa saja yang terjadi.
Keenam, memilih guru yang yang memliki kapasitas cukup. Ya idealnya guru tersebut sudah hafal 30 juz. Ini pula yang pernah dilakukan oleh khalifah Harun Al-Rasyid. Dia memanggil seorang guru yang alim, shalih, hafal Al-Quran dan banyak menghafal hadits dan disiplin ilmu agama lainnya, untuk mengajarkan anaknya.
Seorang guru harus berpenampilan menarik, menyenangkan. Guru tidak saja dituntut untuk memiliki kamampuan hafal dan membaca Al-Quran dengan baik, motivasi yang tinggi, akrab dengan anak-anak, tetapi juga harus memenuhi kriteria tambahan lain, seperti kreatif, inovatif dan mau duduk dan bermain bersama anak-anak.
Semoga penjelasan singkat ini dapat memberikan pencerahan kepada kita sebagai orang tua atau sebagai seorang guru Al-Quran. Sehingga harapan mulia agar anak-anak kita dapat menghafal Al-Quran bisa terwujud. Amin ya Rabbal ‘alamin
Sumber : http://barkahqordhofa.wordpress.com
Cara ini pula yang pernah dilakukan oleh para shahabat dan telah menjadi tradisi mereka dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka. Mereka memilki perhatian yang sangat tinggi dalam mengajarkan Al-Quran. Demikian pula para tabi’in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai kiamat kelak. Sehingga kalau kita membaca kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab, banyak riwayat yang bercerita tentang suksesnya para ulama dalam menghafalkan Al-Quran di usia sebelum mencapai sepuluh tahun. Sebut saja Imam Syafi’i, peletak Madzhab Asy-Sayfi’iyyah, beliau berhasil menghafal Al-Quran 30 juz diusia 7 tahun. Imam Suyuthi, penyusun beberapa kitab, diataranya tafsir jalalain dan tafsir Al-Durrul mantsur, belum genap delapan tahun usianya, beliau telah sukses menghafal Al-Quran 30 juz.
Dalam mengajarkan anak di usia 6 -8 tahunan, kami melihat ada beberapa metode atau cara yang bisa diterapkan :
Pertaman kali yang harus kita fahami adalah bahwa anak-anak seusia ini lebih suka mendapatkan pujian, reward, hadiah, iming-iming atau apalah namanya. Yang jelas mereka sangat menyukai bila selesai mengerjakan tugas, ada yang langsung mereka peroleh. Ini akan jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pendekatan ancaman atau pukulan bila sianak tidak mau atau tidak mencapai target tertentu dalam menghafal Al-Quran.
Berikan mereka hadiah apa saja, dan hadiah itu tidak harus yang mahal harganya. Yang penting bentuk perhatian dari seorang guru atau mungkin juga orang tuanya. Memang kalau ada cukup rezeki, baik sekali kalau hadiah yang diberikan kepada sang anak berkaitan erat dengan program tahfizh Al-Quran, walaupun harganya agak sedikit mahal. Seperti Al-Quran digital, MP4 atau ada juga HP yang berisikan tilawah Al-Quran 30 juz. Tentunya ini akan membuat anak akan lebih bersemangat lagi dalam belajar dan menghafal Al-Quran.
Kedua yang harus diperhatikan oleh seorang guru atau orang tua yang mengajarkan anaknya adalah agar selalu memuji dan menyanjung sang anak atas keberhasilan mereka dalam menyelesaikan tugas atau telah mencapai target tertentu dalam menghafal Al-Quran. Jadi, kita harus berlaku adil terhadap si anak. Jangan ketika dia melakukan kesalahan, tidak mencapai target, kita selalu menyalahkannya dan membuat dia berputus asa dan akhirnya mengakibatkan sang anak tidak lagi mau menghafal. Jadi harus lebih diperhatikan bagaimana sang anak tersebut selalu senang dalam proses menghafal.
Ketiga yang juga tidak kalah pentingnya adalah menciptakan suasana belajar atau menghafal yang menyenangkan dan senyaman mungkin. Sehingga anak akan merasakan mudah dan nikmatnya menghafal Al-Quran. Jangan sekali-kali ada kesan memaksa dan menekan anak untuk menghafal Al-Quran. Karena bila hal ini dilakukan bukan saja dia tidak mau menghafal, bisa jadi dia juga nantinya akan benci dan trauma kalau disuruh untuk menghafal Al-Quran.
Keempat, usahakan sebelum mulai menghafal, seorang guru atau orang tua yang mengajarkannya bercerita secara ringkas tentang isi ayat atau surat yang akan dihafal. Karena dengan demikian dia akan menjadi lebih tertarik dan termotivasi untuk menghafal. Dia ingin sekali menghafal ayat atau surat yang bercerita tentang kisah-kisah tertentu di dalam Al-Quran.
Kelima, mungkin ini juga tidak kalah pentingnya untuk merangsang anak dalam menghafal Al-Quran. Buat gambar-gambar yang berkaitan erat denga ayat atau surat yang akan dihafal. Sehingga mereka akan dapat membayangkan kejadian atau peristiwa apa saja yang terjadi.
Keenam, memilih guru yang yang memliki kapasitas cukup. Ya idealnya guru tersebut sudah hafal 30 juz. Ini pula yang pernah dilakukan oleh khalifah Harun Al-Rasyid. Dia memanggil seorang guru yang alim, shalih, hafal Al-Quran dan banyak menghafal hadits dan disiplin ilmu agama lainnya, untuk mengajarkan anaknya.
Seorang guru harus berpenampilan menarik, menyenangkan. Guru tidak saja dituntut untuk memiliki kamampuan hafal dan membaca Al-Quran dengan baik, motivasi yang tinggi, akrab dengan anak-anak, tetapi juga harus memenuhi kriteria tambahan lain, seperti kreatif, inovatif dan mau duduk dan bermain bersama anak-anak.
Semoga penjelasan singkat ini dapat memberikan pencerahan kepada kita sebagai orang tua atau sebagai seorang guru Al-Quran. Sehingga harapan mulia agar anak-anak kita dapat menghafal Al-Quran bisa terwujud. Amin ya Rabbal ‘alamin
Sumber : http://barkahqordhofa.wordpress.com
Tahfizh Untuk Anak 4 Tahun
Dalam mengajarkan anak menghafal Al-Quran jangan pernah bosan untuk selalu berdoa kepada Allah SWT agar cita-cita mulia ibu dapat terwujud sesuai harapan.
Cita-cita ibu ini tentunya juga cita-cita kita semua para pencinta Al-Quran. Para penghafal dan pembawa risalah Al-Quran adalah orang-orang yang kelak akan di tempatkan bersama para Malaikat yang mulia.
Sebenarnya, dalam mengajarkan anak – dalam hal ini mengajarkan tahfizh Al-Quran – guru ideal dan yang paling baik adalah orang tua yang selalu berinteraksi langsung dengannya setiap hari. Namun karena banyak hal yang tidak memungkinkan orang tua dalam mengajarkan anaknya untuk bisa menghafal Al-Quran, apakah itu karena orang tua sibuk bekerja di luar rumah, tugas dakwah yang begitu padat, mengajar di suatu sekolah, kurang pandai membaca Al-Quran apalagi belum berpengalaman menghafal Al-Quran walau hanya juz ‘amma/juz 30, akan mendorong mereka untuk menyerahkan anaknya ke tempat atau lembaga tahfizh Al-Quran. Atau memanggil seorang guru ngaji atau private Al-Quran untuk bisa mengajarkan sang anak tahfizh Al-Quran.
Sebenarnya cara demikian boleh saja dilakukan, karena cara ini pernah dilakukan oleh orang terdahulu, dimana sang ayah atau ibu menyerahkan anaknya untuk belajar kepada seorang syaikh guru. Diantaranya adalah yang dilakukan oleh seorang Khalifah terkenal yaitu Harun Al-Rasyid. Al-Rasyid memanggil seorang guru yang alim yang memiliki berbagai macam disiplin ilmu, diantara mengajarkan tahfizh Al-Quran.
Yang utama sekali adalah jangan lupa dan jangan bosan untuk selalu dan terus berdoa kepada Allah SWT agar kita semua diberikan kemudah dalam mendidik anak-anak kita, dalam hal ini kita ingin menjadikan mereka cinta kepada Al-Quran dapat membaca dan yang lebih kita cita-citakan lagi adalah mereka dapat menghafal Al-Quran.
Kapasitas seorang guru tahfizh yang memiliki kemampuan dalam mengajarkan tahfizh Al-Quran. kalau orang tua belum mempu mengajarkan langsung, maka pilih seorang guru yang kita yakini dapat mengajarkan tahfizh Al-Quran kepada anak kita tersebut.
Baik orang tua atau guru yang langsung mengajarkan kepada anak tersebut, talqinkan (perdengarkan) secara berulangan-ulang ayat-ayat Al-Quran hingga dia menjadi akrab dengan ayat-ayat tersebut dan pada akhirnya dia mampu menghafalnya.
Disamping itu, bisa juga dikenalkan huruf hijaiyyah, ajarkan anak membaca dan menulis huruf Al-Quran ini dengan metode-metode yang selama ini digunakan dan dianggap lebih praktis dan mudah bagi anak kita. Sehingga suatu saat anak kita dapat menghafal mandiri dengan melihat mushaf dan mengulang (murajaah) hafalnnya sendiri.
Tanamkan pada diri anak kita tentang keagungan, kemuliaan Al-Quran dengan pendekatan dan cara yang menyenangkan dan bisa dipahami olehnya.
Usahakan memasukkan anak kita pada halaqat Al-Quran baik di masjid, mushalla atau di suatu lembaga yang mengajarkan tahfizh Al-Quran. karena yang demikian itu akan membuat dia merasakan bahwa ada banyak anak seusianya yang juga memiliki aktifitas yang sama dalam menghafal AL-Quran.
Gunakan tape recorder atau yang sejenis untuk memperdengarkan Al-Quran, terutaman surat-surat pendek, ajak anak kita untuk menyimak dan mengikutinya. Ulangi beberapa kali hingga dilihat anak sudah dapat mengikuti lantunan ayat-ayat Al-Quran tersebut.
Jadikan anak kita menyenangi proses ini dengan tidak ada unsur pememaksaan yang nantinya akan berakibat anak tidak suka untuk menghafal. Kalau dia menyenangi semua proses yang kita lakukan maka yang akan kita dapatkan adalah kemudahan dalam mendidiknya untuk menghafal Al-Quran.
Usahakan selalu mengajak anak kita ke masjid atau mushalla agar dia dapat terbiasa untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid dan juga agar dia dapat terbiasa mengulang-ulang hafalannya, apalagi biasanya para imam membaca surat-surat pendek, dengan demikian anak akan akrab dengan bacaan Al-Quran.
Yang tidak kalah pentingnya adalah orang tua atau guru Al-Quran banyak membaca tentang psikologi dan pendidikan anak, terutama yang berkaitan dengan bagaimana mendidik anak untuk bisa terbiasa menghafal Al-Quran sejak dini.
Jangan lupa, biasanya anak-anak itu menyukai hadiah, sekecil apapun hadiah yang kita berikan, akan sangat berkesan sekali di hati mereka. Jadi kita bisa mulai mengadakan pendekatan dengan menjajikan hadiah bila mana dia mau belajar kepada kita, terutama sekali jika anak kita mencapai target yang sudah disepakati bersama. Selain itu, berikan sanjungan dan pujian bila anak kita dapat menyelesaikan hafalan tertentu.
Yang tidak kalah pentingnya adalah konsultasikan perihal anak kita kepada guru yang mengajarkannya di sekolah. Sehingga kita bisa berperan seperti gurunya disekolah dan pada akhirnya anak kita juga menyukai pengajaran yang diberikan orangtuanya di rumah.
Semoga penjelasan di atasa dapat memberikan pencerahan kepada ibu dan kita semua yang memiliki cita-cita mulia dalam menjadikan anak-anak kita sebagai penghafal Al-Quran.
Setelah kita melakukan semua upaya di atas, sabar akan semua proses yang kita lalui, maka hanya kepada Allah SWT kita bertawakkal. Hasbunallahu wani’mal Wakil.
Sumber : http://barkahqordhofa.wordpress.com
Cita-cita ibu ini tentunya juga cita-cita kita semua para pencinta Al-Quran. Para penghafal dan pembawa risalah Al-Quran adalah orang-orang yang kelak akan di tempatkan bersama para Malaikat yang mulia.
Sebenarnya, dalam mengajarkan anak – dalam hal ini mengajarkan tahfizh Al-Quran – guru ideal dan yang paling baik adalah orang tua yang selalu berinteraksi langsung dengannya setiap hari. Namun karena banyak hal yang tidak memungkinkan orang tua dalam mengajarkan anaknya untuk bisa menghafal Al-Quran, apakah itu karena orang tua sibuk bekerja di luar rumah, tugas dakwah yang begitu padat, mengajar di suatu sekolah, kurang pandai membaca Al-Quran apalagi belum berpengalaman menghafal Al-Quran walau hanya juz ‘amma/juz 30, akan mendorong mereka untuk menyerahkan anaknya ke tempat atau lembaga tahfizh Al-Quran. Atau memanggil seorang guru ngaji atau private Al-Quran untuk bisa mengajarkan sang anak tahfizh Al-Quran.
Sebenarnya cara demikian boleh saja dilakukan, karena cara ini pernah dilakukan oleh orang terdahulu, dimana sang ayah atau ibu menyerahkan anaknya untuk belajar kepada seorang syaikh guru. Diantaranya adalah yang dilakukan oleh seorang Khalifah terkenal yaitu Harun Al-Rasyid. Al-Rasyid memanggil seorang guru yang alim yang memiliki berbagai macam disiplin ilmu, diantara mengajarkan tahfizh Al-Quran.
Mengajarkan Tahfizh Al-Quran Kepada Anak Usia 4 Tahun
Ada beberapa metode yang harus diperhatikan oleh guru atau orang tua yang akan mengajarkan anak dusia 4 tahun :Yang utama sekali adalah jangan lupa dan jangan bosan untuk selalu dan terus berdoa kepada Allah SWT agar kita semua diberikan kemudah dalam mendidik anak-anak kita, dalam hal ini kita ingin menjadikan mereka cinta kepada Al-Quran dapat membaca dan yang lebih kita cita-citakan lagi adalah mereka dapat menghafal Al-Quran.
Kapasitas seorang guru tahfizh yang memiliki kemampuan dalam mengajarkan tahfizh Al-Quran. kalau orang tua belum mempu mengajarkan langsung, maka pilih seorang guru yang kita yakini dapat mengajarkan tahfizh Al-Quran kepada anak kita tersebut.
Baik orang tua atau guru yang langsung mengajarkan kepada anak tersebut, talqinkan (perdengarkan) secara berulangan-ulang ayat-ayat Al-Quran hingga dia menjadi akrab dengan ayat-ayat tersebut dan pada akhirnya dia mampu menghafalnya.
Disamping itu, bisa juga dikenalkan huruf hijaiyyah, ajarkan anak membaca dan menulis huruf Al-Quran ini dengan metode-metode yang selama ini digunakan dan dianggap lebih praktis dan mudah bagi anak kita. Sehingga suatu saat anak kita dapat menghafal mandiri dengan melihat mushaf dan mengulang (murajaah) hafalnnya sendiri.
Tanamkan pada diri anak kita tentang keagungan, kemuliaan Al-Quran dengan pendekatan dan cara yang menyenangkan dan bisa dipahami olehnya.
Usahakan memasukkan anak kita pada halaqat Al-Quran baik di masjid, mushalla atau di suatu lembaga yang mengajarkan tahfizh Al-Quran. karena yang demikian itu akan membuat dia merasakan bahwa ada banyak anak seusianya yang juga memiliki aktifitas yang sama dalam menghafal AL-Quran.
Gunakan tape recorder atau yang sejenis untuk memperdengarkan Al-Quran, terutaman surat-surat pendek, ajak anak kita untuk menyimak dan mengikutinya. Ulangi beberapa kali hingga dilihat anak sudah dapat mengikuti lantunan ayat-ayat Al-Quran tersebut.
Jadikan anak kita menyenangi proses ini dengan tidak ada unsur pememaksaan yang nantinya akan berakibat anak tidak suka untuk menghafal. Kalau dia menyenangi semua proses yang kita lakukan maka yang akan kita dapatkan adalah kemudahan dalam mendidiknya untuk menghafal Al-Quran.
Usahakan selalu mengajak anak kita ke masjid atau mushalla agar dia dapat terbiasa untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid dan juga agar dia dapat terbiasa mengulang-ulang hafalannya, apalagi biasanya para imam membaca surat-surat pendek, dengan demikian anak akan akrab dengan bacaan Al-Quran.
Yang tidak kalah pentingnya adalah orang tua atau guru Al-Quran banyak membaca tentang psikologi dan pendidikan anak, terutama yang berkaitan dengan bagaimana mendidik anak untuk bisa terbiasa menghafal Al-Quran sejak dini.
Guru Lebih Disukai Daripada Orangtua
Memang banyak anak lebih menyukai dan lebih mendengar nasihat dan pelajaran seorang guru bila dibandingkan orangtuanya sendiri. Sehingga kalau orangtuanya mengajarkannya maka hasilnya kurang optimal dan justeru kemandekkan yang ada. Namun kita jangan putus asa atau berkecil hati dulu. Kalau kita memiliki kemampuan dalam mengajarkan Al-Quran maka kita sebagai orangtua juga dapat berperan sebagai seorang guru sekaligus bagi anak-anak kita di rumah.Jangan lupa, biasanya anak-anak itu menyukai hadiah, sekecil apapun hadiah yang kita berikan, akan sangat berkesan sekali di hati mereka. Jadi kita bisa mulai mengadakan pendekatan dengan menjajikan hadiah bila mana dia mau belajar kepada kita, terutama sekali jika anak kita mencapai target yang sudah disepakati bersama. Selain itu, berikan sanjungan dan pujian bila anak kita dapat menyelesaikan hafalan tertentu.
Yang tidak kalah pentingnya adalah konsultasikan perihal anak kita kepada guru yang mengajarkannya di sekolah. Sehingga kita bisa berperan seperti gurunya disekolah dan pada akhirnya anak kita juga menyukai pengajaran yang diberikan orangtuanya di rumah.
Semoga penjelasan di atasa dapat memberikan pencerahan kepada ibu dan kita semua yang memiliki cita-cita mulia dalam menjadikan anak-anak kita sebagai penghafal Al-Quran.
Setelah kita melakukan semua upaya di atas, sabar akan semua proses yang kita lalui, maka hanya kepada Allah SWT kita bertawakkal. Hasbunallahu wani’mal Wakil.
Sumber : http://barkahqordhofa.wordpress.com
Memulai Tahfizh Qur'an Pada Usia Dini
MediaIslam.net : Home schooling hadir sebagai alternative pendidikan berkualitas dalam keluarga kita di tengah arus liberalisasi dan kapitalisasi yang semakin merusak dan mematerialistiskan dunia pendidikan.
Dalam rubric ini kita akan menghadirkan narasumber yang punya kompeten untuk membahas tentang pendidikan anak. kali ini kita akan membahas topic: MEMULAI TAHFIZH QUR’AN PADA USIA DINI.
Bersama Ustzh Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga.
Ustadzah, kita pernah membahas bahwa dalam kurikulum pendidikan anak berbahas aqidah Islam, hendaknya Al Qur’an menjadi pelajaran yang penting bagi anak. Apa benar demikian?
Ya benar. Karena tujuan pembuatan kurikulum pendidikan anak mengacu pada al Qur’an maka tentu al Qur’an menjadi hal awal yang harus dipelajari oleh anak.
Oya apa sebenarnya tujuan dari kurikulum pendidikan anak berbasis aqidah Islam ini?
Kalau mengacu kepada al Qur’an, maka al Qur’an memberi tuntunan bagaimana kita seharusnya memandang anak-anak kita:
Allah SWT berfirman dalam QS al Fur’qan: 74 “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyayang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang yang bertaqwa”
…“Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur” (TQS. Al A’raf:189)
…“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (TQS. Ali Imran: 110)
Ini sebenarnya inti dari kurikulum pendidikan anak: (1) menjadikan anak-anak kita sebagai penyejuk mata dan pemimpin bagi orang-orang bertaqwa (2) Menjadikan anak-anak kita sebagai anak-anak yang shaleh (3) Menjadikan anak-anak kita sebagai umat terbaik yang akan mengemban dakwah Islam, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar
Seperti apa sih kriteria anak sholeh, bertaqwa dll sebagaimana harapan Islam? Sederhananya adalah membentuk anak-anak agar memiliki kepribadian Islam. Kepribadian Islam yang dimaksud adalah memiliki pola berfikir Islam dan memiliki perilaku yang Islami. Membentuk kepribadian Islami ini harus dimulai sejak dini. Karena anak itu adalah bagaikan kertas putih yang orang tuanya atau lingkungannya yang akan memberi warna pada kertas putih tersebut: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi.” (al Hadits)
Al Qur’an sebagai pedoman seorang muslim dalam berfikir dan bersikap, maka ia harus menjiwai dalam dirinya. Ketika berfikir dia mengacu kepada al Qur’an, ketika bersikap dia juga mengacu kepada al Qur’an. Agar standar ini terbentuk pada seseorang, tentu memulainya harus sejak usia dini. Dengan demikian, hafalan al Qur’an adalah materi dasar bagi seorang anak. Ini yang menjadi kurikulum dasar di dalam home schooling, selain bahasa. (Ada dua akurikulum dasar dalam paket homeschooling yaitu: Tahfizul qur’an dan bahasa)
Apa tujuan dari tahfizul qur’an sendiri? Apakah sekedar hafal atau bagaimana?
Tahfizul qur’an bukan sekedar hafal. Karena kalau soal hafal, ada orang yang hafal al qur’an tetapi tidak memahami kandungannya, sehingga tidak berpengaruh pada perilaku. Ada juga orang yang menghafal tetapi untuk menipu dan mempelajari bagaimana menghancurkan kaum muslimin. Ini sebagaimana yang pernah ditemukan dalam sejarah Indonesia, adalah mereka yang seperti DR Snough Hugronje. Dia terkenal hafizh qur’an bahkan pernah digelari mufti. Tetapi ternyata untuk mempelajari dan merancang bagaimana cara menghancurkan kekuatan masyarakat muslim di Indonesia khususnya di wilayah Sumatera. Sebagaimana dokumen-dokumen yang pernah ditemukan, ternyata ia adalah agen yang disusupkan Belanda. Tetapi yang diinginkan tahfizul qur’an adalah agar membentuk kepribadian mereka. Tujuan rincinya al: (1) agar anak lebih dekat dengan al Qur’an (2) Agar anak menjadi sensitive terhadap suara dan gaya bahasa al Qur’an (3) agar anak memiliki kemampuan konsentrasi tinggi (4) agar anak hafal al Qur’an
Arah pembelajaran ini adalah: memberi motivasi kepada anak anak untuk selalu meraih derajad tertinggi di hadapan Allah SWT dengan menghafal al Qur’an. Kemudian memenuhi benak anak dengan al Qur’an dan selanjutnya membuat anak memahami dalil-dalil yang terdapat dalam al Qur’an.
Seringkali yang sulit adalah sulitnya mengarahkan anak untuk mau belajar. Apalagi anak yang sudah suka bermain. Bagaimana metode agar anak bisa hafal al Qur’an?
Di dalam kurikulum Homeschooling, yang dilakukan adalah:
Pertama. Mendengar dan melafazhkan ayat demi ayat dengan suara keras secara berulang. Dimulai dari al Fatihah, kemudian Juz Amma’. Tekniknya ketika sedang jadwal pelajaran sekolah. Adalah : Guru atau tutor membacakan 1 ayat utuh kemudian diikuti oleh siswa. Demikian seterusnya hingga hafal satu surat untuk JUz Amma’ Kemudian satu halaman untuk al Baqarah. Kemudian dilakukan pengulangan minimal 3 kali. BIla system home schooling bersifat kelompok atau komunitas (lebih dari satu anak) maka anak diminta membacakan dan yang lain mengikuti. Demikian seterusnya. Kemudian dilanjutkan (di rumah), orang tua melakukan teknik yang sama, dengan jadwal dua kali sehari sesudah shubuh dan sesudah maghrib. Cara membacakan harus yang fasih, lancar (sesuai tajwid) dan dengan intonasi yang disukai anak. Bila orang tua memiliki kendala dalam kemampuan ini, maka bisa saja diperdengarkan rekaman hafalan al Qur’an. BIasanya anak lebih suka mendengar hafalan yang disuarakan olah anak-anak. Saat ini ada kaset-kaset hafalan dari anak-anak yang mereka sudah hafal al Qur’an, khususnya dari wilayah Timur Tengah.
...
Dalam rubric ini kita akan menghadirkan narasumber yang punya kompeten untuk membahas tentang pendidikan anak. kali ini kita akan membahas topic: MEMULAI TAHFIZH QUR’AN PADA USIA DINI.
Bersama Ustzh Ir Lathifah Musa. Beliau selain merupakan pemimpin redaksi majalah udara VOI, konsultan klinik anak muda, ternyata juga menjadi pengamat dunia anak, penulis buku-buku pendidikan anak usia dini dan sekaligus juga seorang praktisi Homeschooling dalam keluarga.
Ustadzah, kita pernah membahas bahwa dalam kurikulum pendidikan anak berbahas aqidah Islam, hendaknya Al Qur’an menjadi pelajaran yang penting bagi anak. Apa benar demikian?
Ya benar. Karena tujuan pembuatan kurikulum pendidikan anak mengacu pada al Qur’an maka tentu al Qur’an menjadi hal awal yang harus dipelajari oleh anak.
Oya apa sebenarnya tujuan dari kurikulum pendidikan anak berbasis aqidah Islam ini?
Kalau mengacu kepada al Qur’an, maka al Qur’an memberi tuntunan bagaimana kita seharusnya memandang anak-anak kita:
Allah SWT berfirman dalam QS al Fur’qan: 74 “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyayang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang yang bertaqwa”
…“Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur” (TQS. Al A’raf:189)
…“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (TQS. Ali Imran: 110)
Ini sebenarnya inti dari kurikulum pendidikan anak: (1) menjadikan anak-anak kita sebagai penyejuk mata dan pemimpin bagi orang-orang bertaqwa (2) Menjadikan anak-anak kita sebagai anak-anak yang shaleh (3) Menjadikan anak-anak kita sebagai umat terbaik yang akan mengemban dakwah Islam, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar
Seperti apa sih kriteria anak sholeh, bertaqwa dll sebagaimana harapan Islam? Sederhananya adalah membentuk anak-anak agar memiliki kepribadian Islam. Kepribadian Islam yang dimaksud adalah memiliki pola berfikir Islam dan memiliki perilaku yang Islami. Membentuk kepribadian Islami ini harus dimulai sejak dini. Karena anak itu adalah bagaikan kertas putih yang orang tuanya atau lingkungannya yang akan memberi warna pada kertas putih tersebut: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi.” (al Hadits)
Al Qur’an sebagai pedoman seorang muslim dalam berfikir dan bersikap, maka ia harus menjiwai dalam dirinya. Ketika berfikir dia mengacu kepada al Qur’an, ketika bersikap dia juga mengacu kepada al Qur’an. Agar standar ini terbentuk pada seseorang, tentu memulainya harus sejak usia dini. Dengan demikian, hafalan al Qur’an adalah materi dasar bagi seorang anak. Ini yang menjadi kurikulum dasar di dalam home schooling, selain bahasa. (Ada dua akurikulum dasar dalam paket homeschooling yaitu: Tahfizul qur’an dan bahasa)
Apa tujuan dari tahfizul qur’an sendiri? Apakah sekedar hafal atau bagaimana?
Tahfizul qur’an bukan sekedar hafal. Karena kalau soal hafal, ada orang yang hafal al qur’an tetapi tidak memahami kandungannya, sehingga tidak berpengaruh pada perilaku. Ada juga orang yang menghafal tetapi untuk menipu dan mempelajari bagaimana menghancurkan kaum muslimin. Ini sebagaimana yang pernah ditemukan dalam sejarah Indonesia, adalah mereka yang seperti DR Snough Hugronje. Dia terkenal hafizh qur’an bahkan pernah digelari mufti. Tetapi ternyata untuk mempelajari dan merancang bagaimana cara menghancurkan kekuatan masyarakat muslim di Indonesia khususnya di wilayah Sumatera. Sebagaimana dokumen-dokumen yang pernah ditemukan, ternyata ia adalah agen yang disusupkan Belanda. Tetapi yang diinginkan tahfizul qur’an adalah agar membentuk kepribadian mereka. Tujuan rincinya al: (1) agar anak lebih dekat dengan al Qur’an (2) Agar anak menjadi sensitive terhadap suara dan gaya bahasa al Qur’an (3) agar anak memiliki kemampuan konsentrasi tinggi (4) agar anak hafal al Qur’an
Arah pembelajaran ini adalah: memberi motivasi kepada anak anak untuk selalu meraih derajad tertinggi di hadapan Allah SWT dengan menghafal al Qur’an. Kemudian memenuhi benak anak dengan al Qur’an dan selanjutnya membuat anak memahami dalil-dalil yang terdapat dalam al Qur’an.
Seringkali yang sulit adalah sulitnya mengarahkan anak untuk mau belajar. Apalagi anak yang sudah suka bermain. Bagaimana metode agar anak bisa hafal al Qur’an?
Di dalam kurikulum Homeschooling, yang dilakukan adalah:
Pertama. Mendengar dan melafazhkan ayat demi ayat dengan suara keras secara berulang. Dimulai dari al Fatihah, kemudian Juz Amma’. Tekniknya ketika sedang jadwal pelajaran sekolah. Adalah : Guru atau tutor membacakan 1 ayat utuh kemudian diikuti oleh siswa. Demikian seterusnya hingga hafal satu surat untuk JUz Amma’ Kemudian satu halaman untuk al Baqarah. Kemudian dilakukan pengulangan minimal 3 kali. BIla system home schooling bersifat kelompok atau komunitas (lebih dari satu anak) maka anak diminta membacakan dan yang lain mengikuti. Demikian seterusnya. Kemudian dilanjutkan (di rumah), orang tua melakukan teknik yang sama, dengan jadwal dua kali sehari sesudah shubuh dan sesudah maghrib. Cara membacakan harus yang fasih, lancar (sesuai tajwid) dan dengan intonasi yang disukai anak. Bila orang tua memiliki kendala dalam kemampuan ini, maka bisa saja diperdengarkan rekaman hafalan al Qur’an. BIasanya anak lebih suka mendengar hafalan yang disuarakan olah anak-anak. Saat ini ada kaset-kaset hafalan dari anak-anak yang mereka sudah hafal al Qur’an, khususnya dari wilayah Timur Tengah.
Multaqo Amal Qur'ani Nasional Dorong Muslim Lebih Mencintai Al-Quran
EraMuslim.Com : Keinginan memasyarakatkan pemahaman dan pengamalan Al-Quran yang sempurna seperti dilakukan para sahabat Rasulullah, mendorong lembaga tahfizh Al-Quran seluruh Indonesia berkumpul untuk bertukar pengalaman dalam menerapkan metodologi pengajaran, sehingga dapat menghasilkan para ahli dan penghafal Quran yang berkualitas. Selama tiga hari mulai sejak 18-20 Maret 2008, sekitar seratus orang peserta yang terdiri dari para Ustadz dan Ustazah dari beberapa Propinsi, mengikuti Multaqo Amal Qur'ani Nasional, di Wisma Haji, Ciloto, Puncak, Jawa Barat. Konferensi Nasional Pertama yang bertema 'Realitas Pembelajaran Al-Quran di Indonesia dan Potensi Perkembangannya', ini dibuka oleh Ketua MPRRI Hidayat Nurwahid. Selain itu juga menghadirkan pembicara dari Perwakilan Lembaga Tahfizh Al-Quran Internasional DR Anas Ahmad Karzun, Perwakilan Lembaga Tahfizh Al-Quran Al-Manar Malaysia Ustadz Yaakob Wan Harun, serta dari Departemen Agama.
"Kita ingin memotret amal-amal Al-Quran mulai dari pembelajarannya, baik dari bacaan, tahsin, tanfish, maupun dari segi kelembagaannya. Kita ingin memotret lebih lengkap lagi amalan Qurani di Indonesia, " ujar Ketua Umum Pusat Layanan Al-Quran Ustadz Abdul Hasib Hasan dalam pembukaan Multaqo Amal Qur'ani Nasional, di Ciloto, Jawa Barat, Selasa(18/3).
Menurutnya, dalam konferensi ini didiskusikan upaya pengembangan amalan Quran baik dari sisi manhaj, metodologi, dari sisi kelembagaan, serta persebarannya di seluruh wilayah Indonesia.
"Kita inginkan bagaimana bisa semaksimal mungkin untuk memasyarakatkan Al-Quran Nulkarim yang bisa menjamin kebahagiaan rohani, kebahagiaan hati, kebahagiaan duniawi dan ukhrawi kita, " imbuh Ketua Umum Yayasan Pendidikan Islam Al-Hikmah ini.
Ustadz Hasib menambahkan, dari pertemuan yang mendapat sambutan positif dari para peserta ini, diperoleh rekomendasi yang lebih komprehensif, sehingga amal Qurani lebih dicintai oleh masyarakat muslim di Indonesia.
Senada dengan itu, Perwakilan Lembaga Tahfizh Al-Quran Internasional DR Anas Ahmad Karzun meminta, agar menyelenggaraan Multaqo Amal Qurani yang sudah dirintis pertama kali, tidak berhenti hanya satu kali, namun berkesinambungan hingga mencapai satu tujuan pengajaran Al-Quran yang sempurna.
"Multaqo ini sudah dilakukan di banyak negara, di Indonesia baru pertama kali, mudah-mudahan ini pertama, tapi bukan yang terakhir, " ujarnya.
Sementara itu, Kepala Lajnah Pentasihan Mushaf Al-Quran Departemen Agama Muhammad Shohib menyatakan, pihaknya menyambut baik penyelenggaraan Multaqo Amal Qurani, yang belum pernah diadakan sebelumnya oleh Depag, diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang nyata untuk kebaikan pemahaman Al-Quran umat Islam di tanah air.
Ia menyatakan, Depag sangat menaruh perhatian besar dengan berbagai pengkajian Al-Quran, karena itu pemeliharaan Al-Quran dibentuklah Lajnah Pentasihan Mushaf Al-Quran, yang bertugas mengkoreksi Al-Quran cetak dan elektronik, selain itu sebagai bentuk kecintaan terhadap kitab suci maka di buat Gedung Bayt Al-Quran yang terletak di TMII.(novel)
Kelas Tahfizh Quran Marak di Turki
EraMuslim.Com : Pemerintahan Turki baru-baru ini membuka kelas-kelas belajar, mengaji, sekaligus hafalan al-Qur'an untuk anak- anak negerinya yang tengah menjalani liburan tahunan musim panas. Kebijakan pemerintah untuk membuka kelas-kelas tersebut terbilang baru.
Kelas-kelas ini dibuka secara gratis, dan dikelola oleh para profesional dan guru-guru al-Qur'an terbaik. Selain itu, kelas-kelas ini pun tak hanya dibuka di kota tertentu saja, melainkan di hampir seluruh provinsi-provinsi Turki, mulai dari Aegean di Eropa hingga Diyarbakar di wilayah timur. Tak pelak, masyarakat Turki yang mayoritas Muslim pun menyambut baik kebijakan ini, dan berbondong-bondong memasukkan anak- anak mereka ke kelas-kelas qur'ani tersebut.
Kebijakan ini tak lepas dari peran pemerintahan Turki yang dikuasai oleh AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) dengan PM-nya Recep Tayep Erdogan dan Presidennya Abdullah Gul.
Sejak masa kekausaannya, partai berhaluan Islam moderat ini menampakkan komitmen dan kesungguhannya untuk menjaga tradisi dan nilai-nilai Islami, sekaligus memajukan Turki dari segala bidang, seolah tak mau kalah oleh tetangga mereka: Eropa.
Kelas-kelas tersebut nantinya akan dibawahi oleh Dewan Fatwa Turki sekaligus Lembaga Amal dan Wakaf Turki yang mendapat dukungan penuh dari Kepala Badan Keagamaan Turki.
Selain itu, untuk menambah kesuksesan program al-Qur'an ini, pemerintahan Turki juga akan memberikan penghargaan kepada kelas-kelas dan madrasah-madrasah yang dapat menyelanggarakan program ini dengan baik.
Dengan dibukanya kelas-kelas al-Qur'an tersebut, semoga kecintaan masyarakat Turki terhadap al-Qur'an kian meningkat, dan dapat mengamalkan ajaran-ajaran luhur dan mulianya dalam kehidupan sehari-hari. (L2/db)
...
Kelas-kelas ini dibuka secara gratis, dan dikelola oleh para profesional dan guru-guru al-Qur'an terbaik. Selain itu, kelas-kelas ini pun tak hanya dibuka di kota tertentu saja, melainkan di hampir seluruh provinsi-provinsi Turki, mulai dari Aegean di Eropa hingga Diyarbakar di wilayah timur. Tak pelak, masyarakat Turki yang mayoritas Muslim pun menyambut baik kebijakan ini, dan berbondong-bondong memasukkan anak- anak mereka ke kelas-kelas qur'ani tersebut.
Kebijakan ini tak lepas dari peran pemerintahan Turki yang dikuasai oleh AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) dengan PM-nya Recep Tayep Erdogan dan Presidennya Abdullah Gul.
Sejak masa kekausaannya, partai berhaluan Islam moderat ini menampakkan komitmen dan kesungguhannya untuk menjaga tradisi dan nilai-nilai Islami, sekaligus memajukan Turki dari segala bidang, seolah tak mau kalah oleh tetangga mereka: Eropa.
Kelas-kelas tersebut nantinya akan dibawahi oleh Dewan Fatwa Turki sekaligus Lembaga Amal dan Wakaf Turki yang mendapat dukungan penuh dari Kepala Badan Keagamaan Turki.
Selain itu, untuk menambah kesuksesan program al-Qur'an ini, pemerintahan Turki juga akan memberikan penghargaan kepada kelas-kelas dan madrasah-madrasah yang dapat menyelanggarakan program ini dengan baik.
Dengan dibukanya kelas-kelas al-Qur'an tersebut, semoga kecintaan masyarakat Turki terhadap al-Qur'an kian meningkat, dan dapat mengamalkan ajaran-ajaran luhur dan mulianya dalam kehidupan sehari-hari. (L2/db)
Recent Stories
Mau Ngobrol? Di sini aja...
Search
Link Exchange
Komentar Terbaru
Berkaca
Ingin pasang widget sms gratis seperti ini klik di sini
Tag Cloud
Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Recent Posts
Recent Comments
Subscribe
Subscribe by Email














